Monday, June 3, 2013
Ikhtilat Ikhwan dan Akhwat
Setiap manusia, ikhwan akhwat ataupun manusia
biasa, pasti akan mengalami tiga jenis ujian dalam hidupnya. Meski kadarnya
berbeda – beda bagi setiap orang. Lawan jenis, harta dunia dan status sosial.
Ketiga jenis ujian inilah yang akan menjadi siklus tetap ujian bagi manusia.
Sampai kapan ia akan terlepas dari ujian ini ? jawabnya adalah tatkala manusia
itu telah menghembusan nafas terakhirnya.
Saat syetan sudah mulai putus asa, untuk menggoda para ikhwan atau
akhwat bermaksiat secara terang – terangan. Nampaknya ujian jenis pertama
inilah yang menjadi “momok” tersendiri bagi para aktivis dakwah yang masih berstatus
mahasiswa. Bagaimana tidak ? interaksi yang begitu intens, pertemuan yang
begitu sering, meski berlabel agenda dakwah tertentu, terkadang menjadi celah
tersendiri bagi syetan untuk menggodanya dengan cara yang lain.
Belum lagi dengan kegiatan – kegiatan yang
melibatkan interaksi dengan lawan jenis diluar kegatan – kegiatan berlabel
dakwah. Rapat himpunan, rapat BEM, sampai pada mengerjakan tugas kelompok yang
menjadi makanan sehari – hari bagi sebagaian mahasiswa pada prodi tertentu.
Tentu berkikhtilat, bercampur baur, dengan lawan jenis adalah sesuatu yang
tidak mungkin untuk dihindari. Meskipun untuk hal yang terakhir, pendidikan,
sebagaian ulama memafhumkan hal tersebut.
Fenomena – fenomena semacam inilah yang
kemudian mengharuskan ana, antum, dan semua yang mengaku sebagai pengemban
risalah Allah yang teguh memegang prinsip agama untuk memahami suatu ilmu
tentang fiqh ikhtilat. Pengetahuan yang mendalam tentang hukum – hokum
berinteraksi dengan lawan jenis sesuai dengan ajaran dien ini. Hal ini penting
untuk difahami, agar kita tidak menjadi ragu – ragu dalam berinteraksi atau
bahkan salah dalam menempatkan diri dalam sebuah keadaan.
Ikhwan dan akhwat fillah, ikhtilat secara
dhahir memang adalah bagaimana kita secara fisik berada dalam sebuah tempat
bersama lawan jenis yang bukan muhrim dalam suatu urusan yang tidak sesuai
dengan kaidah syar’i. Namun, lebih daripada itu, kini ikhtilat – ikhtilat itu
telah berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi. Hal ini
menarik untuk dicermati, dikarenakan hal ini pula, MUI di kota Kediri, Jawa
Timur (JawaPos, 23 mei 2009) mengeluarkan fatwa haram untuk sebuah sistus
jejaring social, Facebook. Bukan karena alas an ideologis idealis seperti ana.
Namun, lebih kepada sisi mudhorot yang diimplikasikan oleh situs jejaring
sosial tersebut. Yaitu, mengharamkan Facebook jika digunakan untuk menggunjing,
gossip atau PDKT.
Demikian juga dengan ikhtilat, seiring
perkembangan zaman, ikhtilat maupun khalwat tak lagi mengharuskan dua fisik
bertemu dalam satu lokasi. Cukuplah kiranya sms – sms kita kepada lawan jenis
bukan mahram yang bisa membuat hati gelisah itu termasuk dalam kategori
ikhtilat. Atau telfon – telfon berlebihan, chat – chat yang tiada guna dan
tujuan, pun bisa dikategorikan dalam ikhtilat gaya baru.
Kebanyakan, hasil – hasil dari ikhtilat adalah
timbulnya perasaan “deg – deg ser” kepada lawan jenis tersebut. Dalam bahasa
lain dapat diterjemahkan menjadi, cinta, tresno atau apalah lain sejenisnya.
Bagi kalangan aktivis perasaan cinta sebelum nikah banyak disebut dengan Virus
Merah Jambu. Padahal warna merah jambu adalah warna yang indah dan cerah.
Menurut ana kurang tepat jika virus yang bisa merusak ini disebut dengan Virus
Merah Jambu. Ana menyebutnya sebagai Virus Panah Iblis karena virus ini lebih
sering muncul karena pandangan yang tidak terjaga. Dalam sebuah hadits qudsi:
“Pandangan mata adalah panah beracun dari
antara panah-panah Iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada-Ku
maka Aku ganti dengan keimanan yang dirasakan manis dalam hatinya.” (HR. Al
Hakim).
Maka, barang siapa yang meninggalkan pandangan
jelalatan karena takut Allah niscaya akan diberikan kepadanya rasa manisnya
iman di hati. Mungkin juga manis yang dimaksud adalah manisnya cinta hakiki.
Lalu bagaimana jika ikhtilat tidak bisa
dihindari lagi ? Cara yang paling umum adalah beramal dengan ikhlas, gadhul
bashar, puasa, hijab fisik dan jaga hati. Namun, jika itu semua belum juga bisa
menundukan pandangan dan membuat hati tenang, maka solusi ini mungkin perlu
dicoba, Nikah. Nikah akan mengalihkan pikiran dari pengharapan-pengharapan yang
tidak perlu. Pengharapan yang selama ini menghantui telah berwujud menjadi
bidadari yang setia menanti di rumah sendiri. Kalaupun ada godaan syetan di
tengah jalan, ya, tinggal pulang saja. Di rumah ada yang halal kok.
Seperti yang ana ungkapkan di awal bahwa cinta
sejati yang hakiki hanya akan terwujud jika telah melewati gerbang pernikahan
ini. Jika belum melewatinya, ana masih menganggapnya syubhat. Sementara syubhat
dan nafsu hanya bisa dihalalkan lewat jalur pernikahan.
Kesimpulannya kawan stop free sex... seomga bermanfaat
Author: Mohammad
Mohammad is the founder of STC Network which offers Web Services and Online Business Solutions to clients around the globe. Read More →
Related Posts:
Subscribe to:
Post Comments (Atom)













0 comments: